Antara
Kerjasama dan Persaingan Global: Sebuah Refleksi Pada Pengembangan Sekolah
Berstandar Internasional
Mira
Marlina 11709251020
Abstrak
Era Globalisasi yang ditunjang dengan
perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi menyajikan dimensi dunia tanpa
batas. Dalam globalisasi semua negara terlibat
pada suatu tatanan global, pola hubungan dan pergaulan yang menciptakan persaingan dalam segala bidang. Indonesia sebagai bagian dari masyarakat dunia, dituntut
memiliki sumber daya manusia yang sesuai dengan standar yang dibutuhkan standar
masyrakat global.
Dalam upaya peningkatan mutu, efisiensi,
relevansi, dan peningkatan daya saing secara regional maupun internasional pada
jenjang pendidikan dasar dan menengah, maka telah ditetapkan pentingnya
penyelenggaraan satuan pendidikan bertaraf internasional, baik untuk sekolah
negeri maupun swasta. Keberhasilan dalam pengembangan Sekolah Bertaraf Internasional
(SBI) tentunya didukung keberhasilan sinergi pada level daerah, level
pemerintah pusat dan masyrakat. Yaitu dengan
meningkatkan peran serta masyarakat, dunia perusahaan, dunia pendidikan tinggi
yang diarahkan pada kebersamaan memikul tanggungjawab antara pemerintah,
masyarakat dan peserta didik sebagai bagian dari subjek pembelajaran, yang
dinamis, adaptif, dan penuh inisiatif. Apabila kerjasama lokal baik, maka
sekolah akan mampu menjalin kerjasama tanpa batas dengan lembaga-lembaga
pendidikan diluar negeri.
Pengembangan sekolah bertaraf
internasional harus ditandai dengan keberhasilan dalam melakukan kerja sama sister
school di dalam negeri maupun pada kerjasama antar sekolah pada taraf
global. Dengan kegiatan Sister School
diharapkan mampu membangun kultur berbasis internasional dan mengembangkan
konteks sekolah dalam rangka membangun perluasan wawasan dalam
memperluas tantangan wacana kehidupan global. Tulisan ini akan membahas
relevansi serta pentingnya jalinan kerjasama didalam mengembangkan SBI memasuki
arena persaingan Global.
Key
word: Sekolah Bertaraf Internasional (SBI), Tantangan global, Kerjasama global.
A.
PENDAHULUAN
Era Globalisasi yang
ditunjang dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi menyajikan dimensi
dunia tanpa batas. Dalam globalisasi semua negara terlibat pada suatu tatanan global, pola hubungan dan
pergaulan yang menciptakan persaingan dalam segala
bidang. Indonesia sebagai bagian dari
masyarakat dunia, dituntut memiliki sumber daya manusia yang sesuai dengan
standar yang dibutuhkan standar masyrakat global.
Penyiapan Sumber Daya
Manusia (SDM) yang berkualitas, kompetitif dan memiliki berbagai keunggulan
komparatif menjadi sebuah keharusan dalam kancah
persaingan global. Menurut World Competitiveness Report, SDM Indonesia menempati
urutan ke-45 atau terendah dari seluruh negara yang diteliti, di bawah
Singapura (8), Malaysia (34), Cina (35), Filipina (38), dan Thailand (40). Hal ini
mengindikasikan bahwa pendidikan di Indonesia harus mulai berbenah, mengingat pendidikan adalah modal utama bagi suatu
bangsa dalam upaya meningkatkan kualitas sumberdaya manusia yang dimilikinya.
Melalui UU sisdiknas no
22 tahun 1999 UU no 20 tahun 2003, Indonesia menerapkan otoritas pendidikan
pada daaerah dan mendorong otonomisasi
ditingkat sekolah serta melibatkan masyarakat dalam pengembangan program
kurikulum dan pengembangan sekolah (perencanaan, pelaksanaan dan pengawasan
program pendidikan). Paradigma baru ini diharapkan bisa menjadi solusi awal
dalam mengatasi masalah pendidikian. Isu Global yang dipadukan dengan kekayaan lokal budaya Indonesia diharapkan mampu menciptakan
pendidikan berbasis masyarakat yang mandiri dalam membangun kualitas manusia
Indonesia yang mampu bersaing ditingkat dunia.
Dengan demikian, gagasan
tentang pengembangan Sekolah Berstandar Internsional (SBI) menjadi sangat relevan
terutama dalam konteks persaingan global dan regional.
Mulai dari menejmen,
proses pembelajarannya dengan bahasa internsional sebagai pengantar, tenaga
pendidik yang kompeten, menggunakan kurikulum adaptif sampai menginterrasikan
ICT dalam proses pembelajaran menjadi keunggulan tersendiri dalam SBI. Namun,
seiring perkembangannya, masalah internal berkaitan dengan lemahnya sinergi
kebijakan berbagai sistem masih menjadi kendala pada pengembangan SBI.
Pendidikan haruslah bersinergi dengan bidang politik,
ekonomi, hukum dan budaya dalam arti terbatas, sehingga keseluruhannya
merupakan satu kesatuan yang saling mendukung. SBI sebagai salah satu lembaga
pendidikan tidak bisa berdiri sendiri. Masyarakat bersama-sama dengan
pemerintah daerah setempat bertanggung jawab terhadap mutu pendidikan.
Penyelenggaraan tersebut dibantu oleh wewenang propinsi mengkoordinasika
kegiatan-kegiatan pendidikan didaerahnya dengan bantuan universitas. Disinilah perlu
adanya jaringan kerjasama dan proses
saling membantu dalam memberikan atau pertuakran informasi tiap daerah sehingga
pelaksanaan akan lebih cepat dan bermutu. Tulisan ini akan membahas relevansi
serta pentingnya jalinan kerjasama didalam mengembangkan SBI memasuki arena
persaingan Global.
B.
PEMBAHASAN
Sekolah Bertaraf Internasional (SBI) merupakan
sebuah jenjang sekolah nasional di
Indonesia dengan standar mutu internasional. Dalam upaya peningkatan mutu,
efisien, relevan, dan memiliki daya saing kuat, maka dalam penyelenggaraan
dilandasi oleh Undang-undang No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan
Nasional Pasal 50 Ayat 3 yang berbunyi “Pemerintah dan/atau pemerintah
daerah menyelenggarakan sekurang-kurangnya satu satuan pendidikan pada semua
jenjang pendidikan untuk dikembangkan menjadi satuan pendidikan yang bertaraf
internasional”. Standar internasional yang dituntut dalam SBI adalah
standar kompetensi lulusan, kurikulum, proses belajar mengajar, SDM, fasilitas,
manajemen, pembiayaan, dan penilaian standar internasional. Proses belajar mengajar
di sekolah ini menekankan pengembangan daya kreasi, inovasi, dan eksperimentasi
untuk memacu ide-ide baru yang belum pernah ada.
1.
Visi
Sekolah Berstandar Internasional (SBI) dalam Era Globalisasi
Sekolah Bertaraf
Internasional memiliki visi: Terwujudnya Insan Indonesia yang cerdas dan
kompetitif secara internasional.Visi ini ditinjau dari Dimensi Lokal dan Dimensi Global.
Dimensi
lokal, terkait dengan daya jangkau dan kebutuhan masyrakat. Esensi dari Pengembangan
SBI terhadap tuntutan globalisasi adalah kebutuhan akan pendidikan untuk
menyiapkan sumber daya manusia Indonesia yang mampu bersaing dikancah internasional.
Kebutuhan akan pendidikan berkualitas internasional juga menarik minat
masyarakat untuk menyekolahkan putra putri mereka pada Sekolah Bertaraf
Internasional.
Memiliki label
“internasional” menuntut SBI memiliki
mutu yang jauh lebih baik dari sekolah berstandar biasa. Kualitas baik dari
proses maupun hasil/lulusan SBI harus memiliki keunggulan yang ditunjukkan
dengan pengakuan internasional yang dibuktikan dengan hasil sertifikasi
berpredikat baik dari salah satu negara maju yang memiliki keunggulan dalam
bidang pendidikan.
Pengembangan SBI
ditinjau dari Dimensi Global, terkait
dengan program-program unggulan internasional yang ditawarkan, pertukaran
informasi dan studi banding akan menciptakan jalinan kerjasama dengan negara
sahabat. Khususnya salah satu negara
maju yang menjadi negara anggota Organization for Economic Co-operation and
Development (OECD) yang mempunyai
keunggulan tertentu dalam bidang pendidikan. Dengan terciptanya kerjasama ini
Indonesia bisa ikut berperan bagi kemajuan peradaban dunia dan perkembangan
internasional. Kualitas tenaga pengajar yang bermutu internasional, diharapkan
bisa memberikan hasil yang juga bisa dikonsumsi dunia internasional.
2.
Pentingnya
Merajut Kerjasama dalam Menghadapi Tantangan Global
Berbagai
program-program yang dicanangkan oleh pemerintah pusat tentunya harus
bersinergi dengan keberhasilan pada level daerah baik tingkat provinsi, kota,
dan kabupaten. Tolak ukur keberhasilan berada pada bagaimana cara untuk
mengejewantahkan berbagai kebijakan strategis di bidang pendidikan baik pada
saat proses perencanaan, implementasi, dan evaluasi yang berkesinambungan sesuai
dengan kondisi daerah yang ada.
Walaupun
pemerintah daerah telah memberikan keleluasaan penuh dalam manajemen pendidikan
SBI kepada setiap satuan pendidikan, namun belum disertai dengan perangkat
sistem dan aturan pelaksanaan yang memadai. Sekolah belum memiliki kemerdekaan
untuk menentukan kebijakan yang diambil, Sehingga otoritas dan kewenangan dalam
melaksanakan fungsi-fungsi manajemen masih dianggap tumpang tindih, baik secara
horizontal maupun vertikal. Selain itu, perlu juga ditingkatkan kurikulum
pendidikan sesuai standar internasional dan diimbangi dengan persiapan tenaga
pengajar secara khusus.
Salah satu
contohnya adalah penggunaan bahasa asing (misalnya bahasa Inggris) dalam proses
pembelajaran. Ini tidak mudah karena tidak semua guru bisa berbahasa Inggris
secara aktif. Tetapi pembelajaran bahasa Inggris kepada para guru pun bisa
dilakukan bekerja sama dengan masyarakat, dalam hal ini masyarakat yang
mengelola lembaga-lembaga pendidikan non formal seperti lembaga kursus bahasa
asing atau lembaga pendidikan dan pelatihan bahasa asing.
Bukan hanya
guru, peserta didik pun harus dibelajarkan untuk terbiasa dengan sikap kerjasama.
Pribadi yang kompetitif lahir dari suasana kerjasama. Pendidikan yang
didasarkan pada kebudayaan lokal dan nasional menuju pada tewujudnya suatu
masyrakat dunia. Maka proses pendidikan haruslah mengembangkan kemampuan untuk
berkompetisi didalam kerjasama, mengembangkan sikap inovatif dan ingin selalu
meningkatkan kualitas. Seperti, sikap penerimaan terhadap guru asing, peserta
didik dari negara asing, dan terlibat dalam kegiatan-kegiatan kultur sekolah
atau pengembangan karakter peserta didik yang menghargai atau menghormati
negara/bangsa lain di dunia, toleransi beragama, menghormati dan saling
menghargai budaya tiap bangsa, menghormati keragaman etnis/ras/suku, mampu
berkomunikasi berbasis TIK dan berbahasa inggris/asing lainnya, dan sebagainya.
Pengembangan
sekolah bertaraf internasional harus ditandai dengan keberhasilan dalam
melakukan kerja sama sister school di dalam negeri maupun pada
kerajsama anatar sekoalah pada taraf global. Kegaitan ini melibatkan guru dan
siswa sehingga koloborasi ini membuka cakrawala baru dalam membung kultur
belajar yang berbasis kerja sama global. Salah satu contoh sekolah yang berhasil
dalam program Sister School adalah SMAN 1 Bogor melalui program pertukaran
guru dan pelajar melalui lembaga AFS (American Field Service),
sebanyak 2 Guru Bahasa Inggris dikirim ke Jepang dan Korea dalam program
pertukaran budaya dan 1 guru geografi ke Korea dalam program pembelajaran
Geografi. Untuk pertukaran siswa juga dilakukan pelaksanaan AFS dilaksanakan
sejak tahun 1990 dengan negara Amerika Serikat, Jerman, Jepang, Switzerland,
dan Italia dengan tujuan pengenalan bahasa dan budaya, dengan mengirim
rata-rata 5 orang siswa per tahun.
Sebagian besar sekolah masih
mengalami kesulitan untuk membangun jaringan kerjasama, sehingga belum dapat
melaksanakan kegiatan sister school. Sekolah-sekolah pada kelompok ini
terkendala oleh minimnya pengalaman membangun kerjasama dengan sekolah-sekolah
mitra dinegerinya sendiri, keterbatasan penguasaan Bahasa Inggris,
keterbatasan kerjasama melalui jaringan teknologi informasi dan komunikasi
serta kelemahan pada pengembangan sistem. Maka diperlukan pendampingan
oleh konsultan yang secara intensif mendampingi pengelola SBI dalam
merencanakan dan mengimplementasikan program dan kegiatan sekolah. Konsultasi
secara berkala dengan pengembang sekolah bertaraf internasional di Dinas
Pendidikan Kabupaten dan Direktorat Pendidikan di Departemen Pendidikan
Nasional dengan melibatkan lembaga pendidikan tinggi negeri maupun sawasta.
Sekolah dengan
kualitas internasional seperti ini pasti membutuhkan biaya yang tidak sedikit.
Pembiayaan untuk menunjang pelatihan bahasa, peningkatan kemampuan ICT dan
menjalin kerjasama dengan pihak luarnegeri. Pemerintah daerah bersama-sama
masyrakat memiliki kewajiban dalam hal bujet pembiayaan, perencanaan dan
pengawasan. Untuk menghindari penyimpangan dalam komersialisasi pendidikan
menuntut adanya pengawasan dari masyarakat.
Optimisme menuju
keberhasilan program sekolah adalah dengan meningkatkan peranserta masyarakat,
dunia perusahaan, dunia pendidikan tinggi yang diarahkan pada kebersamaan
memikul tanggungjawab antara pemerintah, masyarakat dan peserta didik sebagai
bagian dari subjek pembelajaran, yang dinamis, adaptif, dan penuh inisiatif.
Dengan demikian, dibutuhkan kerjasama yang optimal sehingga tujuan bersama
dapat tercapai.
C.
PENUTUP
Dari kajian di
atas dapat disimpulkan bahwa pengembangan Sekolah Bertaraf Internasional (SBI)
merupakan upaya pemerintah untuk memperbaiki kualitas pendidikan Indonesia agar
mempunyai daya saing dengan negara maju di era global. Dalam pengembangan SBI,
perlu melibatkan pelbagai unsur/stakeholders pendidikan dan melakukan
studi/penelitian mendalam dengan melibatkan lebih banyak peran masyrakat untuk
menciptakan masyarakat mandiri yang mengerti akan kebutuhan, keinginan dan
harapan yang lebih besar dan menyeluruh terhadap penyelenggaraan pendidikan. Selain
itu, kerjasama yang baik antar berbagai pihak di dalam maupun diluarnegeri
dengan kegiatan Sister School diharapkan
mampu membangun kultur berbasis internasional dan mengembangkan konteks sekolah
dalam rangka membangun perluasan wawasan dalam memperluas tantangan
wacana kehidupan global.
Refferensi:
Asy’ari, Kharis Mutho’. Analisis Sekolah Berstandar Internasional
(SBI). Terdapat di:
Dr. H. Yoyon Bahtiar
Irianto, M.Pd. Membangun Sekolah Bertaraf Internasional. Terdapat di: http://file.upi.edu/Direktori/FIP/JUR._ADMINISTRASI_PENDIDIKAN/196210011991021-YOYON_BAHTIAR_IRIANTO/MEMBANGUN_MADRASAH_BERTARAF_INTERNASIONAL.pdf
Dr ir. Bamabang Dwi Argo. DEA . Melalui
Pendidikan Menjawab Tanatangn persaingan Global. Tedapat di: http://tatiek.lecture.ub.ac.id/files/2010/06/Pendidikan-dan-GlobalisasiKeynote.pdf
Rosyada, Dede. 2007. Paradigma Pendidikan Demokrasi: Sebuah Model Pelibatan Masyarakat dalam
Penyelenggaraan Pendidikan. Jakarta: Kencana.
H.A.R. Tilaar, M.Sc. 2004. Paradigma Baru Pendidikan Nasional.Rineka Cipta: Jakarta.
Marlis, Alen. 2011. Pengertian Rintisan Sekolah Berbasis Internasional. Terdapat di: http://alenmarlissmpn1gresik.wordpress.com/2011/02/24/pengertian-tentang-rintisan-sekolah-berbasis-internasionalrsbi/
--- Sister School Sebagai Unjuk Kinerja Pendidikan
Bertaraf Internasional. Terdapat di: http://gurupembaharu.com/home/?p=2838
http://dikdas.kemdiknas.go.id/application/medi/file/Landasan%20dan%20Pentahapan%20Perintisan%20SBI.pdf
Tidak ada komentar:
Posting Komentar